FALSE GUILTY PLEAS IN THE PLEA BARGAIN MECHANISM UNDER THE 2025 KUHAP
DOI:
https://doi.org/10.37859/jeq.v11i3.12851
Abstract
The 2025 KUHAP introduces a plea bargain mechanism allowing defendants to admit guilt for a reduced sentence, but its procedural design emphasizes formal validity over verifying substantive truth, creating a risk of false guilty pleas. This study analyzes the legal consequences faced by defendants who enter a false guilty plea and evaluates whether Indonesia's legal framework adequately protects substantive truth, using a normative legal method with statutory and conceptual approaches. The findings show that the consequences of a false guilty plea are layered, covering the risk of convicting an innocent person, potential liability for false statements, questions over justice collaborator status, and possible obstruction of justice, each requiring proof of its own legal elements rather than arising automatically. The 2025 KUHAP also does not yet explicitly require judges to conduct an active factual inquiry akin to the factual-basis standard in Boykin v. Alabama, so safeguards should be strengthened through a Supreme Court Regulation, a stronger role for defense counsel, and the involvement of the Witness and Victim Protection Agency (LPSK) to preserve substantive truth.
Downloads
References
Bibliography
Journal Articles
Andhika Gilang Ramadhan, Suyanto dan Dara Puspitasari, “Pengakuan Bersalah di Tangan Penyidik: Validitas Pasal 7 Ayat (1) Huruf M KUHAP 2025 dalam Uji HAM”, Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial & Hukum, Vol. 4, No. 2, 2026.
Annisa Diva Picaesa dan Ferdita Abigael, “Konstruksi Normatif Pengakuan Bersalah dalam KUHAP Terbaru: Adaptasi Mekanisme Common Law dalam Sistem Peradilan Pidana Indonesia”, Jurnal Legalitas, Vol. 4, No. 1, Januari, 2026.
A Arky, Mexsasai Indra dan Ledy Diana, “Politik Hukum Pengaturan Plea bargaining dalam Penegakan Hukum Perkara Pidana di Indonesia,” Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan, Vol. 10 No. 21, 2024.
Alimuddin dkk., “Plea bargaining dalam Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana Negara Indonesia,” Legal Standing: Jurnal Ilmu Hukum, Vol. 8 No. 2, 2024.
Beben Muhammad Bachtiar dan Sarip Hidayat, “Hak Tersangka atas Peradilan yang Adil dan Tidak Memihak dalam Kerangka Dua process of law,” Logika: Jurnal Penelitian Universitas Kuningan, Vol. 16 No. 2, 2025.
Caitlin Nash, Rachel Dioso-Villa dan Louise Porter, “Efficiency Over Accuracy?: Exploring Front-Line Practitioners’ Experiences and Opinions on the ‘Guilty Plea System’,” Justice Quarterly, Vol. 33 No. 3, 2024.
Caroline Erentzen, Regina A. Schuller dan Kimberley A. Clow, “Advocacy and the Innocent Client: Defence Counsel Experiences with Wrongful Convictions and False guilty pleas,” Wrongful Conviction Law Review, Vol. 2 No. 1, 2021.
Cut Nangrie Sari Abuthalib, Dian Ekawaty Ismail dan Ahmad, “Plea bargaining dalam Bayang-Bayang Keadilan: Antara Efisiensi Penegakan Hukum dan Degradasi Nilai Kepastian Hukum,” Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial & Hukum, Vol. 4 No. 1, 2026.
Dhandy Parindo dkk., “Konstruksi Hukum Justice collaborator sebagai Plea bargaining dalam Sistem Hukum Pidana Indonesia dari Kasus Richard Eliezer,” Jurnal Hukum Indonesia, Vol. 3 No. 4, 2024.
Dheny Wahyudhi dkk., “Prinsip Plea bargaining dalam Penyelesaian Perkara Pidana secara Cepat Sederhana dan Biaya Ringan dalam Pembaharuan Hukum Acara Pidana,” Jurnal Sains Sosio Humaniora, Vol. 6 No. 2, 2022.
Gregorius Widiartana, “Pengakuan Bersalah dalam Pembaruan Hukum Acara Pidana: Antara Efisiensi Proses Peradilan dan Perlindungan Hak Terdakwa”, Jurnal Serambi Hukum, Vol. 19, No. 2, 2026.
Haeranah dkk., “The Concept of Plea bargain in the Criminal Process System in Indonesia,” Law Reform, Vol. 21 No. 1, 2025.
Henin Dyah Syafrina dkk., “Model Pengaturan Plea bargaining dalam Pembaharuan Hukum Acara Pidana Indonesia,” Jurnal USM Law Review, Vol. 9 No. 1, 2026.
Herdino Fajar Gemilang dan Rosalia Dika Agustanti, “Penggunaan Plea bargaining dalam Sistem Peradilan Pidana: Menyeimbangkan Efisiensi dan Keadilan,” Jurnal Interpretasi Hukum, Vol. 4 No. 3, 2023.
Iansa Chairicca Nurain dan Dara Pustika Sukma, “Urgensi Perlindungan Hukum Justice collaborator dalam Penegakan Hukum Tindak Pidana Korupsi di Indonesia,” Jurnal Verstek, Vol. 12 No. 4, 2024.
I Gusti Agung Virlan Awanadi dan I Gusti Agung Kiddy Krsna Zulkarnain, “Konsep Jalur Khusus Terkait dengan Kekuasaan Kehakiman dalam Sistem Peradilan Pidana Indonesia”, Locus: Jurnal Konsep Ilmu Hukum, Vol. 5, No. 2, Juli, 2025.
Itok Dwi Kurniawan dan Winarno Budyatmojo, “The Urgency of Implementing Plea bargaining in the Indonesian Criminal Justice System,” Jurnal Edusaintek, Vol. 13 No. 1, 2025.
Johari, “Kebenaran Materil dalam Kajian Hukum Pidana”, Jurnal Ilmu Hukum REUSAM, Vol. VIII, No. 2, November, 2020.
Kurniawan, Kukuh Dwi, Dwi Ratna Indri Hapsari, dan Izza Enggar Prasetya, “Pemberlakuan Plea Bargaining System sebagai Alternatif Penyelesaian Perkara Pidana untuk Tujuan Menyelesaikan Konflik,” Jurnal Jurisprudence, Vol. 10, No. 2, Desember, 2020.
Lade Sirjon, La Ode Muhamad Sulihin dan Yan Fathahillah Purnama, “Perbandingan Mekanisme Pengakuan Bersalah pada Jalur Khusus dalam RUU KUHAP dan Konsep Plea bargaining Ditinjau dari Asas Non-Self Incrimination,” Halu Oleo Law Review, Vol. 7 No. 2, 2023.
Ladito R. Bagaskoro, “Rekonseptualisasi Jalur Khusus dalam Rancangan KUHAP sebagai Bentuk Reformasi Sistem Peradilan Pidana Indonesia,” Arena Hukum, Vol. 14 No. 1, 2021.
Mardian Putra Frans dkk., “Plea bargaining System, Deferred Prosecution Agreement, dan Judicial Scrutiny sebagai Upaya Mengatasi Over Kapasitas Lembaga Pemasyarakatan,” Perspektif Hukum, Vol. 24 No. 2, 2024.
Mawar Sapanah dan Kayus Kayowuan Lewoleba, “Plea bargaining and Indonesia’s Special Track Under the New KUHAP: A Comparative Study with United States,” Al-Risalah: Jurnal Ilmu Syariah dan Hukum, Vol. 26 No. 1, 2026.
Muhammad Junaidi dkk., “Peran Lembaga Perlindungan Khusus Saksi dan Korban (LPSK) terhadap Perlindungan Justice collaborator pada Kasus Pembunuhan Nofriansyah Yoshua Hutabarat,” Tahkim, Vol. 19 No. 1, 2023.
Rezky Abdi Fratama, “Jalur Khusus (Plea bargaining) dalam Hukum Acara Pidana,” Badamai Law Journal, Vol. 5 No. 2, 2021.
Rifi Hermawati, “Studi Perbandingan Hukum ‘Plea bargaining System’ di Amerika Serikat dengan ‘Jalur Khusus’ di Indonesia,” Rewang Rencang: Jurnal Hukum Lex Generalis, Vol. 4 No. 1, 2023.
Salis Gunowo, “Model Plea bargaining pada Sistem Penuntutan Indonesia dalam Perspektif Jaksa,” HAKIM: Jurnal Ilmu Hukum dan Sosial, Vol. 3 No. 4, 2025.
Tennessee Corint, H. Usman dan Erwin, “Perlindungan Hukum Justice collaborator dalam Perspektif Pembaruan Hukum Acara Pidana Indonesia,” Jurnal Hukum to-ra: Hukum untuk Mengatur dan Melindungi Masyarakat, Vol. 10 No. 1, 2024.
Tato, Jekson, dan Hendra Mailoa, “Penerapan Konsep Plea Bargaining Dalam Sistem Peradilan Pidana Terpadu Di Indonesia,” TATOHI: Jurnal Ilmu Hukum, Vol. 4, No. 8, Oktober, 2024.
Tomi Saputra dan Aria Zurnetti, “Peranan Bantuan Hukum sebagai Jaminan Hak Tersangka dalam (Dua process of law) pada Sistem Peradilan Pidana Indonesia,” Lareh Law Review, Vol. 3 No. 2, 2025.
Papers/Academic Speeches
Agung Nugroho Santoso, Rekonstruksi Regulasi Penanganan Perkara Tindak Pidana Korupsi melalui Plea Bargaining System oleh Kejaksaan Berbasis Nilai Keadilan, Disertasi, Universitas Islam Sultan Agung, Semarang, 2023.
Court Decisions
Putusan Mahkamah Agung Amerika Serikat, Boykin v. Alabama, 395 U.S. 238, 1969.
Legislation
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1959 Nomor 75.
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2025 Tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2025 Nomor 188.






